Pilbup Kupang: Warga Amarasi menampik Dikotomi Sopir Konjak

Amarasi,obor-nusantara.com
Tak dipungkiri Dikotomi Sopir konjak dalam hal memilih pemimpin kabupaten Kupang kedepan,jadi isu yang santer dihembuskan dihadapan publik Amarasi dalam tahanan kampanye pilkada Kabupaten Kupang

Dalam penelusuran wartawan Di wilayah Amarasi Barat,saat tatap muka Paket Harmoni dibeberapa titik kampanye dialogis,warga Amarasi menampik bahwa Dikotomi calon Bupati dan Wakil Bupati berdasarkan klaster daerah bukanlah pemahaman yang benar.

Semua kontestan dalam Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Kupang merupakan figur terbaik putra Kabupaten Kupang.

Dikotomi Sopir Konjak dianggap tidak relevan jika dijadikan tolak ukur pemikiran dalam memilih Pemimpin.karena Bupati dan Wakil Bupati memiliki kewenangan yang sama dalam membangun Kabupaten Kupang

Mereka juga merupakan satu kesatuan,perpaduan dua pribadi dalam visi dan misi yang sama demi kesejahteraan rakyat dan pembangunan daerah. Hal ini diungkapkan beberapa warga Amarasi,Selasa/20/3/2018.

Melki Neparasi, “Kabupaten Kupang, bukan hanya orang Amarasi. Kita tidak akan terpengaruh dengan istilah sopir dan konjak. Karena Kabupaten Kupang milik semua orang.mereka pemimpin Kabupaten Kupang bukan pemimpin untuk wilayah tertentu” ujar Melki Neparasi yang ditemui media ini

Pria yang bergelut dalam dunia politik lebih dari 20 tahun ini menambahkan sebagai warga Amarasi Barat, dirinya bersama warga Amarasi pada umumnya sudah punya pemahaman yang sangat baik dalam politik.

“Kami orang Amarasi tidak mudah untuk dibodohi. Kalau kami mau, sudah dari dulu kami sudah menangkan Pak Viktor Tiran atau Pak Ruben Foenay yang periode sebelumnya mencalonkan diri sebagai Calon Bupati.mereka berdua putra Amarasi. Itu bukti bahwa kami orang Amarasi tidak mudah terpengaruh,” tandasnya.

Sementara itu, warga Amarasi Barat lainnya, Herman Modok mengatakan dikotomi Sopir-Konjak sebenarnya tidak berpengaruh terhadap warga Amarasi pada keseluruhan. Warga Amarasi tetap akan memilih figur yang mengayomi dan mengutamakan figur yang layak menjadi pemimpin.
“Kami menilai sopir atau konjak adalah satu paket pemimpin yang akan membangun kabupaten Kupang,bukan hanya untuk orang Amarasi. Jadi ini tergantung kematangan seorang bisa menjadi pemimpin atau tidak. Kalau tidak bisa maka kita harus memilih orang lain yang memiliki kematangan, dalam program yang menjangkau semua masyarakat di Kabupaten Kupang,” ucap dia dalam bincang ringan bersama media ini. (Kenzo/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *