Ambil Kembali Tanah Warisan Dari Pemkab Kupang, 6 Suku Desa Naunu Lakukan Upacara Adat  

Kupang, obor-nusantara.com-Puluhan Warga dari 6 Suku di Desa Naunu, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Upacara Adat Mengambil Kembali  Tanah warisan yang telah di Caplok Oleh Pemerintah Kabupaten Kupang sejak Tahun 1996. Tanah seluas 600 hektar ini sebelumnya di serahkan oleh 6 Suku kepada Pemerintah Kabupaten Kupang Untuk Kepentuingan Pembangunan dengan Ganti Rugi yang hingga kini belum di selesaikan oleh Pemkab Kupang kepada warga.

Upacara Adat yang di gelar oleh 6 suku ini dilakukan di  tengah Hutan persis di belakang Markas Brigif 21 Komodo di Desa Naunu pada Rabu, (11/04/2018) dengan di ikuti puluhan warga yang tergabung dalam 6 suku  atau amaf yakni  Suku Mambait, Utanpoen, Sanamkune, Konomela, Sonlai dan Suku atau olatapatap.

Sebelum di gelar upcara adat, warga dari enam suku atau amaf ini beramai-ramai mengumpulkan batu untuk membuat tanda di tengah lahan sebagai lambang Penolakan dengan menggantung janur kunung dari daun Gewang. Selain di pusaran batu yang di kumpulkan, warga juga menggantung janur kuning di sejumlah pohon yang melambangkan Penolakan aktivitas di Lokasi Tersebut.

Lasarus Mambait selaku Amaf dalam upcara tersebut mengatakan, Pemerintah Kabuoaten Kupang sudah berpuluh Tahun menipu warga dengan menjanjikan sejumlah imbalan yang belum di realisasis sejak Tahun 1996 masa pemerintahan Bupati Kupang Paul Lawa Rihi.

“Memang Benar Tanah ini kami serahkan sejak tahun  1996 kepada Pemerintah Kabupaten Kupang, seluas 200 hektar, tetapi ada sejumlah perjanjian imbalan dari pemerintah kepada kami yakni, pembangunan rumah warga sebanyak 300 unit, pemberian bibit anakan Sap betina 8 ekor dan jantan 8 ekori kepada seluruh warga dan sejumlah perjanjian lainnya sepeti lahan perternakan 2 hektar termasuk sarana umum jalan dan Gereja”ujarnya dengan penuh semangat.

Dikatakan, dari luas lahan 600 hektar yang di serahkan oleh warga, Pemerintah Kabupaten kupang telah menggunakan 40 hektar untuk pembangunan Markas Brigif 21 Komodo. Sementara 560 hektar sisanya akan di peruntukan untuk kepentingan pembangunan lainnya.

“sekarang kami sudah 6 kali mengirim surat kepada Pemerintah Kabupaten Kupang untuk meninjau kembali hasil kesepakatan yang telah di buat pada tahun 1996 lalu, karena kami sebagai pemilik lahan tidak pernah menerima imbalan apapun dari pemerintah terutama di lokasi pembangunan Markas Brigif 21 Komodo, jadi kami sekaang ambil kembali halan kami itu saja” katanya.

Menurutnya, sebagai Ahli waris dirinya bersama 5 Amaf selaku pemilik lahan siap mati jika pemerintah harus memberikan lahan ini kepada pihak Lain sepeti TNI untuk kepentingan pembangunan sarana TNI lainnya.

“kami siap mati pak, kalau pemerintah Kabupaten tetap ngotot untuk menyerahkan lahan kami ini ke Pihak TNI, karena belum lama ini  dari Pihak TNI sudah mendatangi lokasi untuk bertemu warga dan telah menyampaikan sejumlah Permintaan yang menurut kami sangat merugikan warga”. Beber Lasarus.

Usai menggelar Upacara adat, warga dari 6 suku atau amaf ini langsung membubarkan diri dan kembali ke rumah dengan terus memantau dan menanti kejelasan dari Pemerintah Kabupaten Kupang.(wr/by-nora) 

Terima Kasih