Tidak di Proses Dalam PAW,  Yusak Ibrahim Labati Gugat Partai Hanura

oleh

Oelamasi,Obor-nusantara.com – Yusak Ibrahim Labati Calon Anggota Legislatif tahun 2014 yang berhasil memperoleh suara terbanyak ke 3 melayangkan gugatan Perdata terhadap jajaran Partai Hati Nurani Rakyat (Partai Hanura) DPC Kabupaten Kupang, DPD NTT dan DPP Pusat sebagai tergugat dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Kupang sebagai turut tergugat, gugatan ini resmi terdaftar di Pengadilan Negeri Oelamasi dengan Nomor Perkara  40 /pdt 6 /2018/ PN Oelamasi tanggal 22 Juni  2018.

Yusak Ibrahim Labati melalui Kuasa Hukumnya Rudi Tonubesi, SH, M.Hum di Pengadilan Negeri Oelamasi Kamis (21/2018) mengatakan ikhwal dilayangkannya gugatan terkait proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPRD Kabupaten Kupang yang patut di duga tidak sesuai prosedur yang berlaku.

Rudi Tonubesi,SH, M.Hum mengatakan pada pemilihan legislatif tahun 2014 Partai Hanura Kabupaten Kupang berhasil memperoleh 1 kursi di DPRD Kabupaten Kupang atas nama Welhelmus Petrus Maxy Fakukas dengan suara terbanyak pertama 853 suara, namun pasca meninggalnya Welhelmus Petrus Maxy Falukas maka yang seharusnya menggatikan almarhum adalah Caleg dengan perolehan suara terbanyak ke 2 dengan jumlah suara 654 yaitu Yandri Rudolf Nalle, SE yang juga telah meninggal dunia. Dengan demikian Yusak Ibrahim Labati yang memperoleh suara terbanyak ke 3 yaitu 549 suara secara hukum mestinya menggantikan Almarhum Welhelmus Petrus Maxy Falukas sebagai anggota DPRD Kabupaten Kupang Antar Waktu dan mestinya dilantik bersama dua orang anggota DPRD antar waktu dari Partai Golkar dan PDIP beberapa waktu lalu.

Celakanya caleg dengan perolehan suara terbanyak ke 5 yaitu Yakobis Matheos Dethan dengan 483 suara diusulkan oleh DPC Hanura Kabupaten Kupang menjadi penggati Almarhum Welhelmus Petrus Maxy Falukas dengan terlebih dahulu memberhentikan dan mencabut Kartu Tanda Anggota dua orang caleg yang memperoleh suara terbanyak ke 3 dan 4 yaitu Yusak Ibrahim Labati dan Yohanes Kedati, A,Md dengan Surat Keputusan DPP Partai Hanura tanpa melalui tahapan mekanisme  sebagaimana diatur dalam AD/ART Partai. “setelah saudara Maxy meninggal dunia maka secara hukum caleg dengan suara terbanyak ke 2 yang menggati namun juga sudah meninggal dunia maka Yusak Labati miliki hak menggantikan almarhum, pemecatan ke dua calek momor urut 3 dan 4 patut disangka sebagai niat untuk meloloskan caleg dengan nomor urut suara terbanyak ke 5,”Ujarnya.

Yusak Ibrahim Labati mengatakan proses pemberhentian dirinya tidak sesuai mekanisme yang benar bahkan dirinya masih memegang Kartu Anggota hingga saat ini dan juga tidak pernah pindah ke partai lain.

Menurutnya, tidak ada perbuatan dirinya yang nyata melanggar AD/ART Partai dan bahkan sempat di undang sebagai anggota Partai Hanura melengkapi berkas asministrasi persiapan untuk Pileg 2019 mendatang. (Jrm).