Terapkan Pola Pemanfaatan Lahan Pasca Panen, BPTP NTT Dampingi Petani di Kabupaten .Kupang

Oelamasi, obor-nusantara.com-Kondisi umum NTT di bidang pertanian yang dipengaruhi oleh sumber air yang terbatas,menjadi alasan utama Balai Pertanian Tanaman Pangan (BPTP) Naibonat untuk terapkan program inovatif dalam memanfaatkan air pasca panen padi di Kabupaten Kupang

Program Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP) adalah salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan ekonomi petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur

Program tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada petani di Provinsi NTT mengenai pemanfaatan lahan pasca panen pada Musim Tanam (MT) pertama untuk peningkatan ekonomi petani.

Hal ini disampaikan Peneliti BPTP Naibonat Ir. Charles Y. Bora, M.Si bersama tim Peneliti BPTP Naibonat saat memberikan sosialisasi program PIP Senin (02/07/2018) kepada Kelompok Tani Sadar Bangun di  Desa Oelpuah Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya kultur,petani di Kabupaten Kupang umumnya setelah panen pada MT1, lahan dibiarkan kosong dan tidak ditanami tanaman apapun walaupun persediaan air masih mungkin dimanfaatkan petani untuk menanam komoditi tertentu seperti jagung ,kacang hijau Vima1 yang memiliki nilai jual yang cenderung stabil dikisaran Rp. 25.000 per kilogram dengan masa tanam singkat hanya 56 hari saja.

Program PIP itu sendiri katanya dimaksudkan memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada petani untuk pemanfaatan lahan setelah panen, apalagi debit air irigasi masih sangat memadai.

“Kultur petani demikian secara ekonomis tidak produktif dengan membiarkan lahan pertanian kosong begitu saja, padahal jika diolah dan ditanami dengan komoditi yang cocok dengan debit air, waktu tanam singkat dan nilai jual tinggi tentunya akan mampu meningkatkan penghasilan petani itu sendiri”terangnya

Lanjutnya,Kondisi yang ada di Desa Oelpuah dengan debit air yang bersumber dari bendungan Tilong dan bendungan Naben Tasipa masih dapat dimanfaatkan oleh petani, tapi persoalan yang dialami petani adalah bagaimana menaikan air yang ada dibawah lahan pertanian. BPTP Naibonat sebagai lembaga pengkajian teknologi pertanian hadir untuk mengatasi persoalan ini.

Cara yang ditawarkan adalah dengan sistem teknologi Watter PAM dengan penggeraknya mesin Hand Tractor milik petani

Desa Oelpuah dengan lahan pertanian yang luas selama ini mengandalkan air dari bendungan Tilong walaupun memang wilayah Oelpuah adalah wilayah hilir sementara wilayah hulu ada di Kelurahan Tarus, dengan kondisi ini tentunya debit air setelah panen MT1 sangat kecil dan tidak bisa langsung menjangkau areal pertanian, hal ini perlu ada sentuhan teknologi untuk mengalirkan air dari saluran yang ada dibawah lahan pertanian.

“kondisi di oelpuah setelah panen padi, lahan dibiarkan kosong dan sebagai tempat ternak berkeliaran padahal air masih bisa dimanfaatkan untuk tanam komoditi yang cocok dengan masa tanam singkat dan nilai jual tinggi. kami kenalkan teknolgi untuk menaikan air yang ada disaluran dibawah lahan pertanian dengan teknolgi watter pam,”Urainya.

Yusak Ibrahim Labati, Ketua Kelompok Tani Sadar Bangun Desa Oelpuah mengatakan terbuka dan siap menerima program yang dijalankan oleh BPTP Naibonat, program itu untuk meningkatkan pendapatan ekonomi petani dengan pemanfaatan lahan pertanian pasca panen.

Menurutnya, Kelompok Tani Sadar Bangun yang didirikan sejak tahun 1957 hingga saat ini memiliki 191 orang anggota dengan luas areal lahan pertanian sebanyak 125, 25 hektar, jumlah anggota Kelompok Tani Sadar Bangun sendiri terbagi di 7 Desa dan tersebar di Kecamatan Kupang Tengah, Kecamatan Kupang Timur dan Kecamatan Taebenu.(by kenzo).

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara