Hasil Kajian Peneliti BPTP NTT, “Lamtoro Taramba, Pakan Ternak Murah dan bergizi”

Oelamasi,obor-nusantara.com-Kondisi wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang didominasi oleh iklim semi kering dengan luas lahan yang cukup menjadikan pertanian  dan peternakan sebagai sektor utama yang menjanjikan.

Sebagai salah satu  propinsi di Indonesia yang sering dijuluki sebagai propinsi ternak Namun terkendala dengan  produksi pakan yang terbatas di musim kemarau memicu Badan Litbang Pertanian BPTP NTT terus melakukan penelitian dan pengkajian  terhadap produksi pakan ternak dari hasil budidaya lamtoro Taramba yang selama ini sudah dikembangkan diwilayah Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur.

Peneliti peternakan,Ir. Debora Kana Hau, Msi di Camplong, 30/07/2018 ditemui di kelompok Binaannya  saat melakukan Kegiatan Inhouse Kajian Penyediaan dan Pemanfaatan Pakan Murah berbasis legume.

Berlokasi di kelompok sabu bani, dilaksanakan penimbangan sapi dan perawatan kesehatan sapi.

Adapun kriteria sapi yang dilakukan penimbangan adalah anak sapi yang berumur 6 bln – 1 thn dengan jumlah 24 ekor anak sapi. Sapi tersebut merupakan sapi milik petani dari kelompok yang berdekatan yaitu kelompok tani Sabu bani, Sanam tuan dan Telekomonif yang digunakan sebagai materi pengkajian kegiatan Inhouse

Perawatan kesehatan yang dilakukan meliputi penanganan parasit luar(Ekto parasit) dan dalam (Indo parasit) yaitu berupa penyemprotan obat lalat dan caplak pada badan ternak dan pemberian obat cacing lewat suntikan.

Sedangkan untuk menambah daya tahan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan dari infeksi parasit diberikan injeksi vitamin  B Complek.Kegiatan penyediaan dan pemanfaatan pakan murah.

Kegiatan berlanjut pada tanggal 3 agustus 2018, di keltan Sabu Bani desa Camplong 2 yakni melakukan penimbangan lanjutan ternak sapi anak sebanyak 10 ekor yg akan digunakan sebagai objek penelitian sehingga total anak sapi yg digunakan dalam kegiatan ini berjumlah 24 ekor.

Hasil penimbangan awal rata_rata berat badan 80_90 kg,  penimbangan dilakukan untuk mengetahui berat badan anak sapi sebelum di perlakuan pakan berbasis legum lamtoro.

Sistim yang dilakukan adalah pada siang hari anak sapi dilepas bersama induk sapi untuk mencari makan padang sesuai kebiasaan petani sedangkan malam hari ternak sapi dimasukan ke dalam kandang untuk diberikan pakan tambahan legum lamtoro yg sudah di sediakan dalam bank pakan sebagai suplemen.

Selain itu juga dilakukan perawatan ternak baik anak maupun induk sapi berupa penyemprotan parasit luar dan pemberian vitamin dan pemberian nomor ternak pada anak sapi yang dipakai dalam kegiatan penelitian

Sementara peneliti peternakan BPTP NTT Lainnya,Dr.Jacob Nulik menjelaskan  bahwa sejak tahun 2014, BPTP NTT dan peternak di Desa Oebola, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang melakukan percobaan dengan varietas Lamtoro Taramba yang berasal dari Hawai, Amerika Serikat.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa varietas ini mampu meningkatkan bobot berat sapi hingga 30-40 kg/sapi/bulan, yang pada awalnya hanya 15 kg/sapi/bulan

Penggunaan Lamtoro Taramba memicu adanya peningkatan jumlah peternak yang terlibat, mencapai 900 peternak dari 250 peternak

Bibit Lamtoro Taramba telah diproduksi oleh peternak Desa Oebola dan beberapa Desa Lainnya di wilayah kecamatan Fatuleu dan sudah membudidaya mencapai Ratusan hektar.

Bahkan dari hasil budidaya benih Lamtoro Taramba peternak sudah  menghasilkan keuntungan bersih hingga 40 juta rupiah dari hasil penangkaran benih untuk peningkatan ekonomi keluarga

Tak hanya itu, peternak juga mulai mengembangkan bisnisnya pada sistem penggemukan babi. Hal ini membuktikan bahwa sistem penggemukan sapi menggunakan Lamtoro Taramba telah berhasil menggerakkan peternak untuk melakukan bisnis yang lebih beragam.(wr by kenzo)

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara