Metode Cappang, Gaya  Petani Komodo Jadikan Budidaya Padi 2x Panen Sekali Tanam

Manggarai Barat,  obor-nusantara.com-
Selain sebagai salah satu Destinasi wisata komodo dimanggarai Nusa Tenggara Timur,petani di wilayah ini juga memiliki pola baru dalam budidaya padi dengan sistem dua kali panen dalam sekali tanam dari bibit yang sama.

Mereka menyebutnya sebagai budidaya Padi gaya komodo.cara seperti ini sudah dikenal luas masyarakat petani setempat dengan sebutan Cappang namun belum dioptimalkan karena keterbatasan pengetahuan dan  tekhnologi pertanian

Metode Cappang digunakan Setelah panen padi dimusim tanam pertama (biasanya pada MH) tunggul padi bekas panen dibiarkan tumbuh tunas baru (ratun)

Selanjutnya padi bekas panen dipangkas dan akan keluar malai lagi dengan kisaran waktu Sekitar 1,5 bulan dari panen pertama,petani sudah bisa memanen padi lagi dari sistem cappang.

Seperti yang dilakukan Yanto Odos selaku ketua kelompok tani Welanai binaan BPTP NTT di Desa Compang Longgo kabupaten Manggarai Barat

Pada musim hujan 2017/2018,Ia bersama beberapa anggota kelompok tani lainnya dibawah bimbingan peneliti,mereka menanam padi varietas Inpari 32 mengikuti cara tanam legowo 2:1 atas kerjasama dengan BPTP Balitbantan NTT melalui Program peningkatan Indeks Pertanaman (PIP).

Dikatakan Charles Bora selaku Peneliti Pertanian dari BPTP NTT yang melakukan kajian dan pendampingan melalui kegiatan PIP dalam pemanfaatan air sisa pasca musim hujan,mengisahkan bahwa Ternyata hasil cappang mencapai 3,52 ton/hektar.

“Ini membuktikan  bahwa padi hasil capang masih menghasilkan 33 % dari hasil panen pertama (10,5 t/ha).pola cappang ini masih bisa meningkat lagi apabila suplay air cukup dan juga pemupukan”ulasnya

Selanjutnya dikatakannya juga bahwa hasil cappang bisa menutupi biaya produksi yang dikeluarkan pada musim tanam pertama.

“Hal ini bisa dimaklumi karena apabila dihitung nilai rupiah hasil cappang bapak Yanto Odos sebanyak 1,7 dari luas 0,5 ha  dengan harga pembelian gabah oleh bulog (Rp. 4300) maka uang yang diperoleh bapak Yanto sebesar  7,3 juta”tulis charles

Pengalaman ini menurutnya  varietas Inpari 32 selain produktivitasnya tinggi pada panen pertama, juga cocok untuk cappang yang tidak dimiliki varietas padi lainnya

Charles Bora juga menjelaskan  Sistem gaya cappang merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen ditebas/dipangkas, tunasnya akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah dan tunas akan mengeluarkan akar baru sehingga suplay hara tidak lagi tergantung pada batang lama

Tunas tersebut bisa membelah atau bertunas lagi seperti padi tanaman pindah biasa, inilah yang membuat pertumbuhan dan produksinya sama atau lebih tinggi dibanding tanaman pertama

“Teknik cappang adalah teknik penanaman padi menggunakan bonggol tanaman padi sisa panen musim pertama sehingga lebih cepat panen.Agar bisa tumbuh lagi, ada beberapa faktor yang berpengaruh antara lain tinggi pemotongan batang, varietas, kondisi air tanah setelah panen, dan pemupukan,” kata Charles Bora dalam keterangan tertulis, Minggu,5 Agustus 2018

Ia mengatakan, penanaman padi dengan gaya Cappang terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman padi sehingga berdampak positif bagi perekonomian petani.

Hal ini sangat menarik karena petani bisa mendapatkan hasil produksi yang berkali-kali lipat tanpa harus membeli benih baru dan menghabiskan waktu untuk melakukan penyemaian baru. Karena cappang hanya memanfaatkan sisa tanaman yang telah dipanen sebelumnya.

Hasilnya juga tidak jauh berbeda dari konvensional (panen sebelumnya) bahkan petani diuntungkan karena dapat menghemat biaya produksi karena tidak perlu ongkos tanam untuk membeli benih dan penyemaian dan waktunya 50 hari lebih cepat.(wr by kenzo)

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara