Ayub Titu Eki,  Dimata Saya HGU Di Tanah Timor Modus Investasi Bodong

Oelamasi, obor-nusantara.com-
Bupati Kupang dua periode , Ayub Titu Eki, beranggapan Hak Guna Usaha yang berseliweran di wilayah kabupaten Kupang adalah penipuan yang berkedok investasi. Investasi model ini dinilai sebagai pola investasi bodong yang dimainkan oleh kaum kapitalis untuk kepentingan kelompok elit dengan mengorbankan masyarakat sebagai pemilik tanah di wilayah ini.

Titu Eki tak segan-segan,baik sebagai Bupati maupun sebagai pribadi berpendirian bertekad  “pasang badan” membela hak-hak  warga Kabupaten Kupang  yang memiliki lahan untuk penambangan garam oleh PT.Panggung Guna Ganda Semesta(PGGS)

Hal ini sebagai bentuk konsistensi perjuangan Dirinya yang dibuktikan sejak awal kepemimpinannya,Ia menolak dengan tegas kelanjutan HGU dan mencabut HGU dari para pemegang Kuasa HGU

Bahkan Desakan dan tekanan dari berbagai pihak dilevel nasional seakan bukan menjadi tantangan bagi Titu Eki yang juga sebagai salah satu Caleg DPR RI dari partai Golkar

“Saya hanya ingin tanah milik masyarakat dikembalikan kepada masyarakat.saya akan selalu bersama masyarakat memperjuangan Hak mereka”katanya

Dirinya juga siap memperjuangkan bersama masyarakat  demi mengembalikan hak warga walaupun Ia tidak lagi menjabat sebagai Bupati Kupang

“Selama saya masih bernafas,saya tetap memperjuangkan hak-hak rakyat dan daerah dari kaum kapitalis yang merugikan masyarakat”ujarnya

Titu Eki pun mengajak kepada semua masyarakat dari daerah lain di wilayah NTT yang mengalami hal yang sama,untuk berjuang bersama”tegas Titu Eki

“Mari kita berjuang bersama melawan kaum kapitalis yang merampas hak rakyat.jangan kita biarkan masyarakat kita tertindas oleh mereka dengan gaya investasi atau apapun itu bentuknya.selama merugikan masyarakat ayo kita bergandengan tangan melawan ketidak adilan”tegasnya

Bupati Titu Eki membeberkan pernyataan tersebut kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (31/8/2018)

Diakhir masa jabatannya,Ia menegaskan bahwa HGU yang dibuat oleh PT PGGS di kabupaten Kupang adalah pola investasi bodong yang dilakukan kaum kapitalis untuk kepentingan perusahaan dan kroninya tanpa menguntungkan masyarakat sedikit pun

“Ini model penguasaan tanah warga dengan modus investasi bodong.setelah mereka menguasai HGU mereka tidak melakukan kegiatan didaerah ini.dan tidak berdampak apapun untuk peningkatan ekonomi rakyat.HGU itu mereka pergunakan untuk kepentingan mereka.sementara tanah masyarakat ditelantarkan begitu saja”jelas Ayub

Terkait dengan usaha penambangan garam di kabupaten Kupang, PT PGGS mengantongi sertifikat  HGU tetapi dirinya menilai  proses penguasaan lahan tidak sesuai prosedur dimana penyerahan lahan dilakukan melalui intimidasi terhadap masyarakat dimasa lalu.

“Selama ini saya menolak investasi model itu.sampai dipanggil menteri di jakarta juga saya tolak.bahkan saya usir mereka saat mereka mau lobi dengan saya.beberapa hari lalu saya bersama masyarakat juga sudah melaporkan hal ini kepada Ombudsman RI dan Komnas Ham Republik indonesia”katanya

Untuk itu dirinya akan tetap berada di belakang warga walaupun perusahaan ini memiliki bekingan orang besar sekalipun.

Menurutnya,  ada alasan yang mendorongnya mencabut status HGU milik PT PGGS yaitu adanya aksi protes warga ketika dilakukan proses pengambilalihan lahan seluas 3720 ha pada tahun 1990 silam.

PT Panggung Guna Ganda Semesta (PGGS) menguasai tanah di kabupaten Kupang seluas 3720 hektare (ha) di wilayah itu dengan memegang sertifikat hak guna usaha (HGU),Dengan modus investasi industri garam.

“Kala itu ada warga yang diintimidasi sehingga proses penandatanganan penyerahan lahan dilakukan dalam kondisi terpaksa”ujarnya

Selain itu, katanya,  proses penyerahan hak pengelolaan melalui HGU tidak benar. Banyak terjadi intimidasi sehingga adanya penolakan warga dan warga menandatangani penyerahan hak dalam kondisi tertekan.

“Selama inipun lahan tersebut  dibiarkan terlantar tanpa adanya aktivitas usaha yang dilakukan PT PGGS.katanya pabrik garam,tapi apa yang kita lihat sekarang.semuanya hanya janji manis tanpa ada bukti yang dinikmati masyarakat.”tutupnya.(by Kenzo Minggu)

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara