Inovasi Teknologi Pola Tanam Kaji Terap oleh  BPTP NTT,Hasilkan 11 Ton/hektar Jagung Hibrida Nasa 29

Oeteta, obor-nusantara.com-
Inovasi teknologi pola tanam Kaji terap oleh Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian ( BPTP ) NTT mampu memproduksi 11 ton per hektar Jagung Hibrida nasa 29.

Diseminasi tekhnologi kaji terap tersebut diterapkan  di lahan BPP Oeteta kecamatan Sulamu kabupaten Kupang pertengahan Agustus 2018.

Hari ini,Rabu,5 Desember 2018,di lahan BPP kembali dilaksanakan Temu Lapang sekaligus Panen simbolik jagung nasa 29 dengan metode tanam Kaji Terap karya BPTP NTT

Untuk diketahui,Kegiatan kaji terap merupakan salah satu cara dalam Proses Diseminasi teknologi pertanian dari Badan Litbang Pertanian kepada pengguna.

Dalam kegiatan kaji terap 2018 berbasis jagung hibrida Nasa 29 melibatkan unsur peneliti, penyuluh dari BPTP NTT, penyuluh pertanian kabupaten Kupang dan kelompok tani Oeteta di kecamatan Sulamu.

Temu Lapang sekaligus Panen simbolik merupakan salah satu rangkaian kegiatan kaji terap yang diawali dengan penjelasan oleh penanggung jawab kegiatan kaji terap 2018, Ir. Adriana Bire, MSc tentang realisasi kegiatan terutama komponen teknologi  yang diterapkan dalam kegiatan kaji terap.

Selanjutnya dilakukan panen jagung simbolik oleh unsur pemerintah  pada lahan pelaksanaan kegiatan kaji terap bersama pihak  BPTP NTT, Dinas pertanian,Dinas Ketahanan Pangan kabupaten Kupang, kepala bidang  Sumber Daya Alam kabupaten Kupang, penyuluh pertanian kecamatan Sulamu,Kades Oeteta dan unsur petani.

Setelah panen simbolik bersama semua elemen yang hadir, Drs. Jemy Banoet (Kasie TU BPTP NTT) mewakili Kepala BPTP NTT mengharapkan hasil kaji terap dapat dilanjutkan pada musim tanam selanjutnya.

Sementara Polycarpus Buas, SST sebaga koordinator penyuluh kecamatan Sulamu dan Berto Metkono mewakili petani pelaksana menyampaikan pengalaman terapkan metode tanam Kaji terap

“Untuk berhasilnya kegiatan dibutuhkan perhatian lebih,terutama pengairan dan pemupukan yang sesuai serta perhatin terhadap keamanan dari ternak”jelas mereka

Petani pelaksana lainnya (Bernadus Litto) menambahkan bahwa jagung hibrida Nasa 29 merupakan varietas yang menjanjikan karena mempunyai tongkol besar dan 2 tongkol per pohon. Dalam mengefektifkan keterbatasan air dalam musim kemarau maka model pengairan secara alur adalah cara pengairan yang efektif.

Sedangkan kepala desa Pitai (Yermias Ndoen) mengharapkan pendampingan dan teknologi pertanian tetap diperlukan dalam pengembangan jagung di desa Pitai

Kepala desa Oeteta (Yakob Tafai) mengungkapkan bahwa kegiatan kaji terap jagung hibrida Nasa 29 sangat membantu petani terutama untuk memotivasi petani menanam jagung 2 kali dalam 1 tahun dan mengetahui proses produksi perbenihan jagung hibrida Nasa 29.

Thimotius Oktovianus, SH selaku Sekdis Pertanian Kab.Kupang menuturkan,usulan bantuan pemerintah untuk penyediaan Saprodi pertanian dan pendampingan pengembangan pertanian serta kegiatan penangkaran menjadi perhatian pemerintah.

Paulus Ati sebagai Kadis Ketahanan Pangan setempat lebih menekankan kepada penyuluh pertanian perlu mencari, melakukan, dan mempraktekkan inovasi teknologi pertanian, maka perlu pendampingan oleh BPTP NTT. Sehingga perlu menghadapi tantangan lapangan dengan semangat bekerja.

Peserta yang hadir dalam kegiatan adalah selain unsur pemerintah juga hadir petani dari desa Oeteta, Bipolo, Pitai, Pariti dan desa sekitarnya. (IRR/kenzo)

Terima Kasih