Diduga Ada Dana Siluman  Rp.  12 M di dalam APBD 2019 Kabupaten Kupang

Oelamasi, Obor-nusantara.com-
Dana  Rp. 12 Milyar yang muncul dalam paripurna penetapan APBD Tahun 2019 di kabupaten Kupang diduga Dana siluman yang tiba-tiba muncul tanpa melewati tahapan pembahasan komisi dan Paripurna RAPBD.

Hal ini terbukti pada Rapat paripurna Penetapan APBD Tahun Anggaran 2019 kabupaten Kupang yang berlangsung diruang sidang DPRD,Kamis,10 Januari 2019 diwarnai interupsi dari Anggota Dewan dari Fraksi Nasdem dan Fraksi Gerindra.

Pasalnya,ada yang janggal dalam presentasi anggaran oleh Kepala PPKAD setempat.ada dugaan dana siluman sebesar Rp 12 miliar anggaran  pada Komisi C yang tiba-tiba muncul dalam rapat penetapan APBD yang tidak dibahas dalam komisi dan Banggar,juga Paripurna RAPBD sebelum diasistensi.

Ternyata, pada rapat pembahasan RAPBD sebelum diasistensi di Provinsi total untuk komisi C Sebesar  Rp 77 miliar,namun setelah kembali untuk ditetapkan menjadi APBD muncul Rp 12 miliar lagi sehingga menjadi Rp 89 miliar.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kupang, Tome da Costa dan Ketua Fraksi NasDem, Sofia Malelak de Haan mempertanyakan hal ini pada Rapat  penetapan APBD Kabupaten Kupang tahun 2019.

Dalam interupsi, Sofia  menilai tidak ada konsistensi dalam hal penganggaran untuk biaya pembangunan yang diplotkan pada Komisi Dewan.

Mengingat defisit anggaran yang dialami daerah ini,sehingga dilakukan perampingan dalam alokasi anggaran, tapi disisi lain terdapat penambahan anggaran khusus di Komisi C yang membidangi pembangunan tanpa melalui tahapan dari komisi dan paripurna.

Dikatakannya, pada Komisi C muncul anggaran Rp 12 miliar padahal pada pembahasan dengan pemerintah hanya Rp 77 miliar. Dia mempertanyakan darimana dana itu sehingga bisa masuk di Komisi C yang mencapai Rp 12 miliar. Sesungguhnya Komisi A dan B sangat konsisten dengan anggaran yang sudah disepakati namun pada Komisi C justru muncul dana sebesar itu sehingga perlu ada transparansi dari pemerintah terkait dana dimaksud.

Hal senada juga dipertanyakan Tome da Costa. Menurutnya, Komisi C tidak pernah meminta tambahan dana karena dana yang ada sebesar Rp 77 miliar sudah merupakan keputusan bersama sebelum diasistensi. Namun, ketika paripurna penetapan justru ada dana Rp 12 miliar maka ini patut dipertanyakan.

“Mekanisme dalam penganggaran sudah jelas bahwa antara pemerintah dan dewan sebelum bahas dibentangkan plafonnya. Setelah itu dibahas bersama bilamana ada pergeseran program maka dilakukan pergeseran tapi tidak menambah anggaran. Tapi justru yang terjadi begitu pulang dari asistensi dana yang semula Rp 77 miliar ada tambahan Rp 12 miliar. Komisi C sama sekali tidak menambah program,lalu darimana dana itu,” katanya.

Usai rapat penetapan, Tome kepada wartawan menegaskan bahwa dana itu diduga dana siluman. Praktek penambahan dana setelah asistensi bukan baru pertama,tetapi sudah menjadi kebiasaan dan praktek seperti ini sudah menjadi penyakit lama yang dialami lagi kali ini.

“Ini bukan hal baru. Sudah ada paripurna tapi nanti ada rapat kecil lain lagi. Makanya saya minta supaya pada tahun 2020 pembicaraan anggaran harus transparan dengan tampilkan di layar lebar supaya tahu. Alasan bahwa hitungan manual sehingga terjadi kekeliruan, saya kira itu alasan yang tidak masuk akal. Kalau ada human eror dalam hitungan manual mana tidak mungkin angka sebesar Rp 12 miliar. Alasan pemerintah soal hitungan manual dan memang besaran dana Rp 89 miliar setelah dihitung menggunakan peralatan elektrik, saya rasa tidak masuk akal,anak SD juga tau.ini penyakit lama yang kambuh lagi”terangnya

Ketua Dewan, Yosep Lede berpendapat bahwa tidak ada dana siluman. Penjelasan pemerintah sudah jelas bahwa perhitungan semula sistem manual lalu ketika dihitung menggunakan sistem elektrik memang hasilnya Rp 89 miliar sehingga tidak benar ada dana siluman.

“Kita minta kepada pemda setelah penetapan APBD 2019 ini maka mulai bekerja. Laksanakan program yang sudah ditetapkan itu. Jadi pemerintah sudah klarifikasi bahwa salah hitung karena sistem manual,” jelas Lede.(kenzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *