Akses Transportasi di Utetoto Terputus, San Mosa Siap Fasilitasi Tokoh Utetoto Temui Bupati Nagekeo

Nangaroro,Obor-nusantara.com-
Hujan yang mengguyur wilayah Nangaroro selama beberapa pekan mengakibatkan salah satu jembatan yang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Nangaroro,  Kabupaten Nagekeo,  Nusa Tenggara Timur (NTT) rusak di terjang banjir. 

Rusaknya jembatan ini memutus akses transportasi masyarakat dari dan ke Desa Utetoto bahkan derasnya Arus banjir di sungai Maladewa,menutup akses transportasi bagi petani, pelajar dan juga pedagang di desa Utetoto, kecamatan Nangaroro, kabupaten Nagekeo, NTT.

Mereka harus menghentikan semua aktifitas keseharian jika banjir semakin deras di aliran sungai yang menghubungkan dua Desa  di wilayah  Utetoto.

Akses jalan yang merupakan  jalur transportasi orang dan barang,hingga kini pemkab setempat ogah membangun jembatan penghubung antar desa yang melewati sungai Maladewa.

Demikian disampaikan Ketua Satgas Forum Pemuda NTT Jakarta, Paskalis Towari via ponselnya kepada media ini, Senin (21/01/19) malam.

“Saya harap pemkab Nagekeo tergerak hatinya memperhatikan saudara saudari kita di Utetoto. Miris, apalagi musim penghujan ini, para pelajar harus bertaruh nyawa lewati arus sungai Maladewa,” jelas Paskalis.

Paskal, yang juga asal kampung Koekhobo desa Utetoto inipun mengatakan pemerintahan sebelumnya hanya ‘lip service’ bagi warga masyarakat desa setempat, tak pernah mewujudkan wacana peningkatan sarana infrastruktur di kecamatan Nangaroro, khususnya jembatan penghubung wilayah desa Utetoto dan kampung Kakadena.

Ia berharap dibawah pemerintahan baru bupati Yohanes Don Bosco Do dan wakil bupati Marianus Waja dapat merealisasikan apa yang menjadi kebutuhan utama warga Utetoto saat ini.

“Pemerintahan sebelumnya cuma lip service doang. Wacana tapi tak pernah wujudkan. Saya harap bupati dan wakil bupati baru bisa merealisasikan apa yang menjadi harapan warga Utetoto,” ujarnya

Menurutnya, realisasi pembangunan jembatan jika terwujud maka dampak positif tak cuma dirasakan warga, selain peningkatan ekonomi, lancarnya arus transportasi angkutan barang dan orang khususnya dalam menghubungkan daerah yang masih terisolir sudah barang tentu ada pemasukan bagi daerah. “Nah, apabila pemda realisasi pembangunan jembatan, tentu dampak positif tak cuma bagi warga setempat, PAD pun otomatis perlahan pasti meningkat,” terangnya

Sementara,Yosef Kalasan Mosa,SH salah satu tokoh muda Kecamatan Nangaroro kepada wartawan melalui sambungan telepon,mengaku siap fasilitasi para tokoh masyarakat utetoto sampaikan masalah tersebut kepada Bupati Nagekeo

“Besok,Rabu,23 Januari 2019 saya akan turun ke lokasi di utetoto untuk melihat langsung dan temui para tokoh agar bisa bertemu langsung pak dokter Don.saya akan fasilitasi mereka sampaikan keluhan masyarakat utetoto.”katanya

Sebagaimana dilansir poskupang.com , Minggu (06/1/2019), Kristo warga kampung Koekhobo mengaku, pemerintah sampai saat ini belum ada upaya untuk menanggulangi masalah baik ekonomi maupun tranportasi.

“Akses jalan menuju Utetoto dari kampung Fataleke mengalami curah hujan yang sangat tinggi dan akibatnya sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat mengalami macet dan tidak dapat melewati kali Maladena,” ujarnya, Sabtu (5/1/2019)

Kristo mengharapkan pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui Dinas Pekerjaan Umum untuk segera melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan maupun jembatan penghubung.

“Saya berharap dengan memperbaiki sejumlah ruas jalan dan jembatan penghubung menuju kampung Kekadena dapat mempelancar akses kendaraan roda dua maupun roda empat serta para pejalan kaki. Para petani juga dapat beraktivitas dengan baik dan dapat berjalan normal sebagimana mestinya,” katanya

Warga lain, Baltasar Bha, juga mengeluhkan hal yang sama, dengan dampaknya pada pendidikan mulai dari tingkat SD dan SMP yang berasal dari kampung Madapadhu dan Kekadena.

Menurutnya para pelajar harus menyeberangi kali Maladewa menuju Kampung Utetoto untuk sekolah disana. Jika arus air yang cukup deras, banyak pelajar yang tidak mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan curah hujan yang tinggi dan banjir yang meningkat setip musim hujan.

“Anak-anak kami yang sekolah kebanyakan pulang kembali ke rumah karena sulit melewati arus air yang cukup deras akibat curah hujan yang sewaktu-waktu datang. Satu-satunya sekolah yang ada hanya di Kampung Koekobho, akibatnya anak-anak kami kesulitan untuk belajar dan memperoleh ilmu yang ada di sekolah,” tambah Baltasar

Sungai Maladewa merupakan sungai yang menghubungkan dua wilayah, yakni Utetoto dan kampung Kekadena.

Masyarakat Desa Utetoto mengeluh dengan akses jalan yang tidak layak untuk menghubungkan dua lokasi tersebut. Di daerah ini belum ada jembatan sehingga akses kendaraan selalu sulit melewati kali tanpa jembatan itu.(kenzo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *