Warga Senang, BWS NT-2 Rehab Bendungan Haliwen di Atambua

Atambua, obor-nusantara.com-Warga masyarakat Desa Umaklaran Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini merasa senang setelah pemerintah Pusat melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara dua (BWS NT-2) Kupang merehabilitasi Bendungan Haliwen yang telah rusak selama beberapa tahun.
Kerusakan Bendungan haliwen pada beberapa tahun terakhir ini membuat puluhan kelompok tani yang selama ini menggarap sedikitnya 300 hektare lahan pertanian di Kawasan Itu terpaksa tidak bisa bertani maksimal.


Dua kali penen setahun yang selama ini menjadi sumber pendapatan petani melalui tanaman berbagaii jenis pangan dikawasan itu tidak lagi menjadi sumber kehidupan warga setelah bendungan itu rusak (tersumbat) dibagian Pipa induk akibat tertutup material dari bendungan.
“sudah dua tahun ini kami petani disini tidak bisa berbuat banyak setelah sumber air dari bendungan haliwen tidak bisa masuk Ke sawah karena pipa air dari bendungan tersumbat lumpur dan material lainnya dari bendungan”. Ujar ketua Kelompok tani Sirani, Desa Umaklaran Abriel Atu Bili saat ditemui wartawan di Bendungan haliwen pada selasa, 15/10/2019.


Menurutnya, setiap musim tanam seluruh petani yang menggarap 300 hektare itu selalu panen dua kali setahun, namun setelah bendungan haliwen rusak pada tahun2018 lalu, mereka hanya bisa panen satu kali dalam setahun.
“kami dulu panen setahun dua kali, tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi, karena itu sebagai ketua kelompok tani sekaligus warga di sini kini merasa senang karena bendungan sudah di tangani oleh Pemerintah”. Katanya.
Dikatakan, sejak ditangani dan bendungan mulai berfungsi, meski musim tanam sudah berakhir sehingga petani tidak bisa menanam atau mengolah lahan lagi petani tetap senang.


“kalau sudah tangani begini kita tidak susah air lagi untuk mengolah lahan pertanian kita yang sudah dua tahun hanya bisa panen satu kalai saja”. jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Proyek Rabilitasi Bendungan Haliwen dari Pt. Syarif Maju Karya Yohanes P Bere mengatakan, hingga awal bulan oktober ini fisik rehabilitasi bendungan Haliwen telah mencapai 37 persen.
“saat ini (per oktober) fisisik kita sudah mencapai 37 persen dan kita optimis semua pekerjaan akan selesai sesuai jadwal kontrak”. Papar Yohanes. Yohanes mengatakan, kesulitan awal yang dialami dilapangan adalah penanganan pipa induk yang tersumbat akibat sedimen dari bendungan yang memakan waktu cukup lama.
“kita kesulitan saat air belum keluar ke petani tetapi saat ini sudah keluar itu yang menjadi suatu kesuksesan di proyek. Kata Yance.
Untuk diketahui, Pemerintah Pusat pada tahun anggaran 2019 ini melalui dana bantuan bank dunia (Dois Phase II) mengalokasikan dana sekitar Rp 4.4 milyar untuk penanganan bendungan haliwen.
Sesuai kontrak kerja yang ada (05 agustus 2019) pekerjaan rehabilitasi bendungan haliwen akan selesai pada tanggal 31 januari 2020 mendatang. (wr/nora).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *