Pemilik Lahan, Saya Kasi Gratis Ini Semua Tidak Ada Biaya Ganti Rugi Dari PT Yetty Dharmawan

Foto, Pemilik lahan berbaju biru dibelakang saat rumahnya tertimpa pohon

 

Ende, obor-nusantara.com-Pemilik lahan Yang dijadikan sebagai lokasi Galian C jenis Urukan Pilihan (Urpil) oleh Pt. Yetty Dharmawan untuk kepentingan Pekerjaan Proyek Pembangunan Jalan Simpang Maukaro-Nangaba-Boafeo-Maukaro yang dikerjakan pada tahun Anggaran 2019 lalu mengaku jika lahan miliknya itu diberikan secara cuma-cuma alias GRATIS tanpa membayar sepeserpun.


Penyerahan Tanah/lokasi tambang galian C jenis Urukan Pilihan itu kepada Kontraktor PT. Yetty Daawan hanya melalui kesepakatan lisan (Bukan tertulis) antara pemilik lahan dengan Perusahaan/Kontraktor.
“itu pemilik lahan yang rumahnya kena runtuhan Pohon kemiri pak (sambil menunjuk pemilik lahan yang berdiri) mereka kasi ini tanah (lokasi) cuma-cuma tetapi melalui kesepakatan yang kami sebagai tokoh masyarakat juga tidak tahu, yang jelas tidak ada ganti rugi atau sewa lahan ini semua GRATIS”. Jelas salah seorang tokoh masyarakat Desa Wologai satu, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ditemui wartawan di lokasi tersebut pada Sabtu 29/02/2020 saat bersama sejumlah warga membatu pemilik Lahan yang rumahnya tertimpa pohon di lokasi Penambangan Galian C hasil kerukan Pt Yetty Dharmawan.
Menurutnya, sebagai tokoh masyarakat di Desa itu sama sekali tidak ikut campur dalam urusan tersebut.


“ini kerjaan Pt. Yetty Dharmawan pak dan kami tidak ikut campur, tetapi kalau soal lahan galian C ini pemiliknya itu pak yang kasi ke perusahaan secara gratis.” ujarnya.
Dikatakan, pengambilan material gakian C jenis Urukan Pilihan (Urpil) itu unruk kepentingan penguatan bahu jalan sehingga aspal tidak mudah tergerus atau rusak.
“ini mereka pakai untuk kerja bahu jalan sepanjang 8 kilo meter di sisi kiri dan kanan jadi totalnya 16 kilo meter semua diambil dari sini dan GR4tiS pak”. Urai warga.
Sementara itu menurut salah seorang warga Desa Boafeo Gusty, mereka sudah berulang kali menegur para Oekerja agar mengerjakan proyek itu dengan baik sehingga bisa dapat bertahan lama.
Terus terang kami kecewa dengan hasil pekerjaan yang dilakukan PT Yetty Dharmawan, sebab selain lambat dalam bekerja, kualitas dari jalan pun kami ragukan,” kata Gusty, warga Boafeo kepada saat ditemuli di lokasi itu.
Sebelumnya diberitakan media bahwa, Penggunaan Material Galian C jenis Urukan Pilihan (Urpil) untuk kepentingan pengurukan bahu Jalan pada proyek pembangunan jalan simpang Maukaro Nangaba-Boafeo-Maukaro Tahun Anggaran 2019 yang bersumber dari Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) II senilai Rp 19 milayar lebih yang dikerjakan oleh Pt. Yeti Darmawan hingga kini masih berlangsung.


Pekerjaan proyek tersebut oleh kontraktoe pelaksana kuat dugaan menggunakan amterial galian C Jenis Urukan Pilihan (Urpil) pada bahu jalan dari lokasi Ilegal (tanpa Ijin) milik masyarakat Desa Wologai, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pembangunan jalan tersebut, sebelumnya disambut baik oleh masyarakat yang rindu akan akses jalan yang baik dari desa menuju kota. Namun kini mereka kecewa, sebab PT. Yetty Dharmawan sebagai pelaksana dinilai telah bekerja dengan sangat lambat dan melebihi batas waktu pelaksanaan.
Sampai saat ini, pekerjaan tahun anggaran 2019 itu masih terus dikerjakan, bahkan terdapat banyak titik yang telah dicutting dan ditambal ulang karena mengalami kerusakan akibat pengerjaan yang kurang baik.


Sementara itu, Direktur Pt Yety Dharmawan Sony Indra Putra yang dikorfirmasi terkait persoalan tersebut ada Sabtu 29/02/2020 siang sedang tidak berada kantor.
Bahkan saat dihubungi melalui saluran telepon Sony hanya menjawab sedang berada di Luar Kota mengurus keluarga yang sakit.
“lagi di Malang Om,, ada liat om masuk RS.” jawab Sony singkat.
Sebelumnya, kepada wartawan di Ende pada 25/02/2020 di kantornya Sony mengakui jika, Perusahaan Pt Yety Dharmawan hanya memiliki ijin Lokasi Pertambagan Galian C dari Pemerintah profinsi NTT yang berada di Lokasi Desa Welamosa, Kecamatan wewaria, Kabupaten Ende, sementara lokasi lainnya hanya sebagai pengolahan lahan pertambangan milik warga seperti yang ada di Boafeo.
“seharusnya ada ijin kalau tambang di lokasi mana saja tetapi memang di sana (Boafeo) tidak ada.” katanya.
(wr/team).

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara