Anggota DPR RI Melki Laka Lena  dan Balai POM Kupang Sosialisasi KIE di TTU

Kefamenanu, Obornusantara.Com- Anggota DPR RI dari Fraksi Paetai Golkar Emanuel Melkiade Laka Lena, S. Si, Apt, bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) obat dan makanan bersama tokoh masyarakat di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Rabu (21/10/20).

Kegiatan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) dilaksanakan di Hotel VIKTORY Kefamenanu Dihadiri Beberapa Narasumber Yakni Emanuel Melkiades Laka Lena, S. Si, Apt, selaku Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Frama El Lefiana Pollo, S. Si, Apt Selaku Kepala Seksi Pengujian Kimia dan Yasinta Udayana Nona, SH, selaku Kepala Seksi Penindakan. Kegiatan ini di ikuti oleh salah satu Tokoh Masyarakat kefaemannu dan kurang lebih 200 peserta dari Mahasiswa/i serta beberapa kalangan masyarakat setempat.

Pada kesempatan itu Frama El Lefiana Pollo  selaku Kepala Seksi Pengujian Kimia, mengajak peserta menjadi konsumen cerdas sehingga dengan hal tersebut peredaran obat hingga makanan yang berbahaya bagi kesehatan bisa ditekan.

“Apapun bentuk sosialisasi serta tindakan yang diambil pemerintah terhadap penjual obat hingga makanan yang berbahaya jika masyarakat atau konsumen tetap membeli maka akan percuma,” kata Frama.

Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk tidak menggunakan obat dan makanan yang berbahaya bagi kesehatan sehingga dampaknya bisa diminimalkan. Agar tetap bisa menggunakan obat dan makanan yang aman masyarakat diminta teliti dengan cara melakukan cek KLIK atau cek kemasan, cek label, cek izin edar hingga cek kedaluwarsa.

“Akibat perjalanan kemasan obat atau makanan bisa saja rusak sehingga berpengaruh kepada isinya, hal ini juga harus diperhatikan, hingga pengecekan kedaluwarsa sehingga obat atau makanan yang dikonsumsi benar-benar berdampak baik pada tubuh,” ujarnya.

Selanjutnya kepada Yasinta Udayana Nona, SH, yang akrab disapa “Diana”, Selaku Kepala Seksi Penindakan, pihaknya mengajak Masyarakat untuk teliti menerima obat atau makanan yang akan dijual sehingga tidak merugikan konsumen. Menurutnya pada beberapa kasus saat ditemukannya obat dan makanan berbahaya beredar, pedagang biasanya berdalih tidak mengetahuinya padahal jika teliti tentu saja hal itu bisa diantisipasi.

Bahkan saat ini BPOM juga telah memiliki aplikasi yang bisa diunduh untuk memastikan obat atau makanan memperoleh izin edar atau tidak.

“Setelah diunduh pedagang bisa mengecek kode izin BPOM maka akan diketahui terdaftar atau tidak, dan jika kode pada kemasan telah dimasukkan namun hasilnya tidak ada berarti telah terjadi pemalsuan dan segera lapor,” kata Diana.

Diana juga mengajak masyarakat membiasakan diri untuk hidup sehat dengan mengkonsumsi obat dan makanan yang sehat.

“Cek KLIK yang digalakkan BPOM sangat perlu ditingkatkan sehingga berbagai penyakit yang berasal dari obat hingga makanan yang tidak sehat tidak menggerogoti tubuh manusia,” Bebernya.

Ia menyebutkan hampir 90 persen penyakit berasal dari lambung yang dikarenakan mengonsumsi obat dan makanan yang tidak sehat.

Sehingga kata dia, bukan kemampuan tenaga medis yang terbatas dalam mengantisipasi berbagai penyakit namun munculnya berbagai penyakit lebih disebabkan karena masyarakat yang ceroboh mengonsumsi berbagai obat dan makanan.

“Masyarakat harus mewaspadai beredarnya obat ilegal hingga vaksin palsu, walaupun terjadi tidak di kabupaten itu namun kewaspadaan harus ditingkatkan” Imbuhnya

Akhir Kegiatan Anggota DPR RI Wakil Ketua Komisi IX, Emanuel Melkiades Laka Lena, S. Si, Apt, menyampaikan, Bahwa masyarakat harus mewaspadai zat-zat berbahaya dan tidak mencampuri bahan itu pada saat membuat makanan yang akan dikonsumsi. Zat-zat berbahaya tersebut sepeti rhodamin yang digunakan untuk mewarnai makanan, boraks, formalin dan zat berbahaya lainnya.

“Zat-zat berbahaya pencampur makanan terjadi karena masih lemahnya kepedulian masyarakat terhadap hal itu, mudahnya zat-zat tersebut didapatkan baik di warung maupun di pasaran serta dampak yang ditimbulkan tidak secara langsung jadi masyarakat berfikir mengkonsumsi barang tersebut aman”, Ungkap MLL. (Wr/Arro Bria)

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara