GMNI Belu Tuntut Polres Malaka segera Tangkap Pelaku Penganiaya Wartawan di Malaka

Malaka, Obornusantara.Com-Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) menuntut penyidik Polres Malaka segera tangkap dan menahan pelaku yang melakukan premanisme terhadap Dua Wartawan di Malaka pada Kamis (15/10) lalu.

Ketika melihat wartawan tidak dimanusiakan, kami menyatakan bahwa peristiwa tersebut telah menggores perasaan kami Mahasiswa se Indonesia. Kekerasan terhadap wartawan Media Online gardamalaka.com dan suluhdesa.com yang terjadi di Kabupaten Malaka.

Hal ini membuat GMNI Cabang Malaka turun ke jalan dan melakukan aksi demo meminta Polres Malaka agar secepatnya menangkap pelaku premanisme terhadap kedua wartawan di Malaka. Aksi Mahasiswa ini berlangsung di depan Kantor Polres Malaka. Kamis 22/10/2020.

GMNI menuntut, Polres Malaka atas tindak premanisme yang diduga melakukan kekerasan terhadap wartawan Media Online gardamalaka.com dan suluhdesa.com di Kab.Malaka.

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Belu Hendrik Modok, kami turun aksi di Betun tepatnya di depan Polres Malaka, untuk menuntut keras Polres Malaka untuk dipercepat menangkap oknum atas pengeroyokan dua wartawan media online tersebut.

“kami merasa sedih  melihat kejadian tidak terpuji ini, tujuan kami turun aksi bukan karena dendam, kepada Bapak Ibu Polisi sekalian, melainkan kami melihat sejauh ini belum ada titik terang dalam menangani kasus ini dimana tindakan yang dilakukan oleh pihak Kepolisian untuk mengatasi aksi Premanisme terhadap dua wartawan oleh oknum tersebut. Dan melihat peristiwa ini kami katakan bahwa sangat merusak kondisi Demokrasi Negara, tuturnya.

Seperti yang diketahui bersama kekerasan terhadap wartawan merupakan ancaman atas kebebasan berekspresi dan kemerdekaan Pers yang dilindungi Undang-Undang, dalam hal ini Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers Berbunyi, “setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan kemerdekaan Pers, dipidana paling lama dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta Setiap orang” dalam pasal itu termasuk Polisi atau aparat Negara lainnya.

Kami GMNI berharap, bersama Polres Malaka yang merupakan representasi pemerintahan yang adil, jujur, bersih, segera pertanggungjawaban dengan menindaklanjuti kasus pengeroyokan terhadap dua wartawan Malaka, hingga sampai tuntas, pungkasnya. (Wr/Arro Bria).

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara