Soal Kesulitan Air Untuk Petani Ute Nagekeo,  Ini Jawaban Tim Ahli Program TJPS Gubernur Laiskodat

Kupang,obor-nusantara.com
Tim ahli program TJPS. Dr.Efert Y. Hosang.Msi,PhD dan Ketua Tim Ahli Dr.Tony Basuki.Msi merespon positif permintaan Petani Ute ditiga Desa di Kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo untuk menerapkan program Tanam Jagung Panen Sapi atau TJPS ditanah Ulayat Ute.

Menurut Efert yang juga sebagai koordinator peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) wilayah NTT,tugas tim ahli yakni merancang program,mengawal penerapan teknologi pertanian, memastikan semua komponen berjalan sesuai rencana,melakukan seleksi rekrutmen pendamping dan melatih pendamping baru.

“Ditanah ulayat Ute dinangaroro kalau memiliki sumber air dengan luasan yang cukup besar maka patut dijadikan lahan TJPS. Karena potensi lahannya ada, sumber air dan petaninya menerima.Tahun 2021 kita prioritaskan”Sebut Efert.

Tinggal aparat dan pendamping kalau bisa disiapkan dan sinergis dengan masyarakat pasti jadi. Karena sarana produksi dan ada offtaker yang membeli sehingga tidak ada alasan untuk tidak jalan.

“Tanam jagung panen sapi bukan saja biacara jagung tapi juga bicara pakan ternak berupa lamtoro taramba. Ada pelatihan Peternakan bagi petani tentang bagaimana membuat pakan ternak yang baik.Semua terintegrasi termasuk dengan dinas disperindag terkait mesin pengolahan pakan”Ujar Efert dikediamannya,Jumat,20 November 2020.

Ada beberapa Syarat calon petani  program TJPS  diantaranya terkait luasan lahan bagi setiap calon petani minimal 2 hektare untuk musim hujan sedangkan musim Kemarau tergantung ketersediaan air.Calon petani dan calon lahan (CPCL) per desember harus sudah diusulkan sebagai calon petani TJPS yang didata oleh penyuluh dan dinas pertanian Kabupaten.

Kepada media ini,dirinya mengatakan bahwa pada program ini pemerintah propinsi menyiapkan fasilitas yang yakni benih jagung, pupuk, traktor, pestisida, pompa air dan alat pengepil jagung.

“Hasil dari petani akan dibeli oleh offtaker yang mau bergabung dengan pemerintah seperti Perusahaan Daerah flobamora dan pt sangkara dan perusahaan lainnya. Soal harga jagung disepakati bersama petani dan offtaker.Petani juga disiapkan pendamping disetiap sekitar 100 hektare dan disesuaikan dengan lokasi petani”Jelasnya.

Dijelaskannya juga bahwa Program ini sudah dikembangkan 4000 hektar pada musim hujan tahun 2019 di 7 kabupaten di NTT,dan musim kemarau 2019 seluas 1700 hektar di 16 kabupaten. Untuk musim hujan tahun ini sedang dikembangkan 8300 hektare di 16 kabupaten.

Sementara Ketua Tim Ahli Program TJPS Dr.Tony Basuki.Msi menjelaskan Intinya, kalau memang petani yang memulai dan menginginkan untuk ikut terlibat dalam program pemerintah seperti TJPS, maka ini adalah sesuatu yang positif.
Mungkin petani juga mengikuti perkembangan keberhasilan mengenai TJPS di daerah lain.

“Saya yakin, Dinas Pertanian Provinsi atau Kabupaten pasti mau merespon tentang semangat petani di Nagekeo.
Untuk diketahui bahwa, Pemerintah provinsi NTT, untuk MT 2021 (Asep dan Okmar) telah merencanakan pengembangan TJPS seluas 40 ribu ha di seluruh kabupaten. Ini berarti ada terlibat 80 ribu petani aktif, dan belum termasuk tenaga kerja yang terlibat.
Kemarin kami tim ahli, diundang Kepala Dinas Pertanian NTT dan jajarannya untuk merencanakan hal ini”Ungkap Tony.

Bahkan menurut Kepala Dinas, TJPS telah ditempatkan sebagai salah satu instrumen strategis berkaitan dengan elonomi NTT dan pengentasan kemiskinan.Karena itu, sekali lagi jika program ini dimulai keinginan dari petani, maka itu hal yang sangat positif. Karena salah satu kesuksesan program pertanian, faktor utamanya berasal dari petani itu sendiri.(kenzo)

Terima Kasih Tetap bersama kami di Media Obor Nusantara