Gebyar Hari Anak Universal Tingkat Provinsi NTT 2020, Aliansi PKTA beberkan Sejumlah Kasus Kekerasan Anak Di NTT

oleh

Kupang,obor-nusantara.com-
Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (PKTA) Propinsi NTT menggelar Gebyar Hari anak universal tingkat propinsi NTT tahun 2020 dengan tema persatuan dalam keberagaman.

Digelarnya gebyar hari anak Universal dikarenakan saat ini masih marak terjadi nya Kekerasan terhadap anak dan merupakan masalah yang serius di Provinsi NTT. Pemerintah Provinsi NTT sesungguhnya memberikan perhatian terhadap masalah ini dengan menjadikannya sebagai point penting dalam Rencana Jangka Menengah Daerah Provinsi NTT Tahun 2018 – 2023. Akan tetapi komitmen pemerintah ini belum juga memberikan dampak positif.

Seminar yang berlangsung di Asthon hotel,Senin,(30/11) juga bertepatan dengan Dies Natalis perdana Aliansi PKTA Provinsi NTT tanggal 26 November dan memeriahkan Hari Anak Internasional yang jatuh pada tanggal 20 November 2020.

“Beberapa agenda kerja yang telah direncanakan terpaksa ditunda dan dibatalkan akibat wabah tersebut oleh sebab itu selama masa pandemi COVID 19 ini, tidak dapat dipungkiri bahwa angka kekerasan terhadap anak juga semakin tinggi,” Jelas Benyamin Leu Selaku koordinator Aliansi PKTA NTT.

Dalam laporannya ia mengatakan kekerasan juga banyak terjadi dilingkungan Satuan Pendidikan.Hal ini terbukti dari Hasil survey yang dilakukan oleh Universitas Nusa Cendana Kupang,dimana pada 1678 siswa dari 56 sekolah hanya 7% anak yang merasa aman di sekolah.Kekerasan fisik dan psikis masih sangat sering terjadi di sekolah dalam bentuk pukulan, tendangan, cubitan dan lainnya. Kekerasan dilakukan baik oleh guru maupun oleh teman sekolah.

Untuk Mengatasi persoalan tersebut maka Save the Children bersama 27 Lembaga Swadaya Masyarakat dan Lembaga Keagamaan telah membentuk Aliansi Penghapusan Kekerasan Anak tingkat Provinsi Nusa tenggara Timur. Aliansi yang dibentuk tanggal 25 Nopember 2019 ini terus berbenah diri dan melaksanakan berbagai agenda kerja dalam memastikan kehadiran regulasi dan program pemerintah yang berpihak pada anak.

“Berdasarkan Data Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kabupaten Kupang tercatat ada 108 kasus kasus yang dilaporkan pada tahun 2017, 103 kasus di Tahun 2019, sedangkan sampai bulan Agustus tahun 2020 sebanyak 86 kasus. Angka ini dipandang masih jauh dari fakta karena disinyalir masih banyak orang tua yang belum berani melaporkan kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada lingkungan keluarga mereka. Hal ini terjadi karena takut membuka aib keluarga apalagi kasus tersebut merupakan kekerasan seksual,” jelas Benyamin.

Selanjutnya Benyamin juga mengatakan masih banyak kasus penyiksaan anak oleh oknum Aparat Kepolisian dan Aksi kekerasan yang dilakukan oleh oknum pemuka agama seperti yang terjadi di Kabupaten TTU, Aksi pembunuhan anak oleh ayah kandung di Flores, Aksi penggusuran pemukiman di Besipae, dan aksi dugaan kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh pejabat BMKG di Kabupaten Alor, telah menunjukan kepada kita bahwa kekerasan terhadap anak memang semakin memprihatikan saat ini.

Diakuinya bahwa Lembaga Keagamaan memiliki peran yang sangat penting dalam upaya menekan angka kekerasan terhadap anak.Oleh sebab itu diharapkan Gereja, Masjid, Pura dan Wihara dapat memainkan peran preventif dengan memberikan pesan-pesan moral melalui kotbah-kotbah keagamaan.Upaya ini perlu tersedianya konten pesan yang terstruktur dan sistimatis sehingga memudahkan pimpinan Lembaga Keagamaan dalam menyampaikan pesan tersebut.

Sementara itu, PLT Dinas pemberdayaan perempuan dan anak Thelma Debora Sonya Bana memberikan apresiasi dan mengatakan peringatan hari anak dimaknai sebagai bentuk pemenuhan dan partisipasi terhadap hak – hak anak yang mengandung lisensi meningkatkan hak asasi khususnya anak NTT. Isue perlindungan anak merupakan isue global yang jadi perhatian seluruh negara.

Kehadiran aliansi PKTA NTT ini menjadi langkah strategis bersamaan dengan upaya pemprov NTT dalam upaya mengatasi kekerasan terhadap anak di NTT. Ia menghimbau agar dapat mendukung mengembangkan potensi, minat dan bakat anak agar dapat mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak ,selain itu dapat menanamkan Budi pekerti yang baik guna pembentukan karakter anak bangsa yang berkualitas.

“Peringatan hari anti kekerasan terhadap anak bukan hanya perayaan kepada anak-anak namun merupakan sebuah momen untuk menyadarkan masyarakat bahwa masih banyak anak yang merasakan kekerasan dalam bentuk pelecehan, eksploitasi dan diskriminasi,” ungkap Thelma Bana.(kenzo)